Laman link

Share our knowledge

Senin

Cara Menggunakan Multimeter Analog

Multimeter sering disebut AVOmeter atau multitester, ada dua jenis AVO meter yaitu Analog dan Digital. Alat ini biasa dipakai untuk mengukur harga resistansi (tahanan), tegangan AC (Alternating Current), tegangan DC (Direct Current), dan arus DC. Bagian-bagian multimeter analog seperti ditunjukkan gambar di bawah ini:
Cara Menggunakan Multimeter Analog
Cara Menggunakan Multimeter Analog

Dari gambar multimeter dapat dijelaskan bagian-bagian dan fungsinya:
1.         Sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk (Zero Adjust Screw), berfungsi untuk mengatur kedudukan jarum penunjuk dengan cara memutar sekrupnya ke kanan atau ke kiri dengan menggunakan obeng pipih kecil.
2.         (2)       Tombol pengatur jarum penunjuk pada kedudukanzero (Zero Ohm Adjust Knob), berfungsi untuk mengatur jarum penunjuk pada posisi nol. Caranya : saklar pemilih diputar pada posisi W (Ohm), test lead + (merah dihubungkan ke test lead €“ (hitam), kemudian tombol pengatur kedudukan 0 W diputar ke kiri atau ke kanan sehingga menunjuk pada kedudukan      0 W.
3.         Saklar pemilih (Range Selector Switch), berfungsi untuk memilih posisi pengukuran dan batas ukurannya. Multimeter biasanya terdiri dari empat posisi pengukuran, yaitu :
4.         Cara Menggunakan Multimeter Analog
5.         Posisi W (Ohm) berarti multimeter berfungsi sebagai ohmmeter, yang terdiri dari tiga batas ukur : x 1; x 10; dan K W
6.         Posisi ACV (Volt AC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter AC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
7.         Posisi DCV (Volt DC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter DC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
8.         Posisi DCmA  (miliampere DC) berarti multimeter berfungsi sebagai mili amperemeter DC yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan 500.
9.         Tetapi ke empat batas ukur di atas untuk tipe multimeter yang satu dengan yang lain batas ukurannya belum tentu sama.
10.     Lubang kutub + (V A W Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya test lead kutub + yang berwarna merah.
11.     Lubang kutub €“ (Common Terminal),  berfungsi sebagai tempat masuknya test lead kutub – yang berwarna hitam.
12.     Saklar pemilih polaritas (Polarity Selector Switch), berfungsi untuk memilih polaritas DC atau AC.
13.     Kotak meter (Meter Cover), berfungsi sebagai tempat komponen-komponen multimeter.
14.     Jarum penunjuk meter (Knife €“edge Pointer), berfungsi sebagai penunjuk besaran  yang diukur.
15.     Skala (Scale), berfungsi sebagai skala pembacaan meter.
16.     Adapun cara pemakaian multimeter adalah pertama-tama jarum penunjuk meter diperiksa apakah sudah tepat pada angka 0 pada skala DCmA , DCV atau ACV posisi jarum nol di bagian kiri (lihat gambar 3a),  dan untuk skala ohmmeter posisi jarum nol di bagian kanan (lihat gambar 3b). Jika belum tepat harus diatur dengan memutar sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk meter ke kiri atau ke kanan dengan menggunakan obeng pipih (-) kecil.

Cara Menggunakan Avometer Multimeter Analog
Kedudukan Normal Jarum Penunjuk Meter






http://sambores.blogspot.com/
REF#3
Seperti yang kita ketahui multimeter adalah alat ukur untuk mengukur arus listrik, tegangan, dan resistansi. Multimeter ada dua, yaitu multimeter analog dan digital. Tentu multimeter analog dapat mengukur lebih akurat dan lebih mudah digunakan daripada multi meter analog. Banyak orang yang masih merasa bingung dalam menggunakan alat tersebut dikarenakan buku panduan yang disertakan dalam pembelian terlalu simpel ataupun masih menggunakan bahasa inggris atau bahasa cina. Berikut artikel yang saya ambil tentang bagaimana cara menggunakan alat multimeter
Bentuk dari multimeter analog yang sering kita lihat adalah seperti yang ada disamping

Cara menggunakan Multimeter:
Mengukur tegangan DC
  • Atur Selektor pada posisi DCV.
  • Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar tegangan yang akan di cek, jika tegangan yang di cek sekitar 12Volt maka atur posisi skala di batas ukur 50V.
  • Untuk mengukur tegangan yang tidak diketahui besarnya maka atur batas ukur pada posisi tertinggi supaya multimeter tidak rusak.
  • Hubungkan atau tempelkan probe multimeter ke titik tegangan yang akan dicek, probe warna merah pada posisi (+) dan probe warna hitam pada titik (-) tidak boleh terbalik.
  • Baca hasil ukur pada multimeter.



Mengukur tegangan AC
  • Atur Selektor pada posisi ACV.
  • Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar tegangan yang akan di cek, jika tegangan yang di cek sekitar 12Volt maka atur posisi skala di batas ukur 50V.
  • Untuk mengukur tegangan yang tidak diketahui besarnya maka atur batas ukur pada posisi tertinggi supaya multimeter tidak rusak.
  • Hubungkan atau tempelkan probe multimeter ke titik tegangan yang akan dicek. Pemasangan probe multimeter boleh terbalik.
  • Baca hasil ukur pada multimeter.
Mengukur kuat arus DC
  • Atur Selektor pada posisi DCA.
  • Pilih skala batas ukur berdasarkan perkiraan besar arus yang akan di cek, misal : arus yang di cek sekitar 100mA maka atur posisi skala di batas ukur 250mA atau 500mA.
  • Perhatikan dengan benar batas maksimal kuat arus yang mampu diukur oleh multimeter karena jika melebihi batas maka fuse (sekring) pada multimeter akan putus dan multimeter sementara tidak bisa dipakai dan fuse (sekring) harus diganti dulu.
  • Pemasangan probe multimeter tidak sama dengan saat pengukuran tegangan DC dan AC, karena mengukur arus berarti kita memutus salah satu hubungan catu daya ke beban yang akan dicek arusnya, lalu menjadikan multimeter sebagai penghubung.
  • Hubungkan probe multimeter merah pada output tegangan (+) catu daya dan probe (-) pada input tegangan (+) dari beban/rangkaian yang akan dicek pemakaian arusnya.
  • Baca hasil ukur pada multimeter.
  Mengukur nilai hambatan sebuah resistor tetap
  • Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
  • Pilih skala batas ukur berdasarkan nilai resistor yang akan diukur.
  • Batas ukur ohmmeter biasanya diawali dengan X (kali), artinya hasil penunjukkan jarum nantinya dikalikan dengan angka pengali sesuai batas ukur
  • Hubungkan kedua probe multimeter pada kedua ujung resistor boleh terbalik.
  • Baca hasil ukur pada multimeter, pastikan nilai penunjukan multimeter sama dengan nilai yang ditunjukkan oleh gelang warna resistor.
Mengukur nilai hambatan sebuah resistor variabel (VR)
  • Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
  • Pilih skala batas ukur berdasarkan nilai variabel resistor (VR)yang akan diukur.
  • Batas ukur ohmmeter biasanya diawali dengan X (kali), artinya hasil penunjukkan jarum nantinya dikalikan dengan angka pengali sesuai batas ukur.
  • Hubungkan kedua probe multimeter pada jedua ujung resistor boleh terbalik.
  • Sambil membaca hasil ukur pada multimeter, putar/geser posisi variabel resistor dan pastikan penunjukan jarum multimeter berubah sesuai dengan putaran VR.
Mengecek hubung-singkat / koneksi 
  • Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
  • Pilih skala batas ukur X 1 (kali satu).
  • Hubungkan kedua probe multimeter pada kedua ujung kabel/terminal yang akan dicek koneksinya.
  • Baca hasil ukur pada multimeter, semakin kecil nilai hambatan yang ditunjukkan maka semakin baik konektivitasnya.
  • Jika jarum multimeter tidak menunjuk kemungkinan kabel atau terminal tersebut putus.
 Mengecek diode
  • Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
  • Pilih skala batas ukur X 1K (kali satu kilo = X 1000).
  • Hubungkan probe multimeter (-) pada anoda dan probe (+) pada katoda.
  • Jika diode yang dicek berupa led maka batas ukur pada X1 dan saat dicek, led akan menyala.
  • Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti dioda baik, jika tidak menunjuk berarti dioda rusak putus.
  • Lepaskan kedua probe lalu hubungkan probe multimeter (+) pada anoda dan probe (-) pada katoda.
  • Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti dioda baik, jika bergerak berarti dioda rusak bocor tembus katoda-anoda.
  
Mengecek transistor NPN
  • Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
  • Pilih skala batas ukur X 1K (kali satu kilo = X 1000).
  • Hubungkan probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada kolektor .
  • Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-C.
  • Lepaskan kedua probe lalu hubungkan probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada kolektor.
  • Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-C.
  • Hubungkan probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada emitor.
  • Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-E.
  • Lepaskan kedua probe lalu hubungkan probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada emitor.
  • Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-E.
  • Hubungkan probe multimeter (+) pada emitor dan probe (-) pada kolektor.
  • Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus C-E.
  • Note : pengecekan probe multimeter (-) pada emitor dan probe (+) padakolektor tidak diperlukan.
  Mengecek transistor PNP
  • Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
  • Pilih skala batas ukur X 1K (kali satu kilo = X 1000).
  • Hubungkan probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada kolektor.
  • Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-C.
  • Lepaskan kedua probe lalu hubungkan probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada kolektor.
  • Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-C.
  • Hubungkan probe multimeter (+) pada basis dan probe (-) pada emitor.
  • Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-E.
  • Lepaskan kedua probe lalu hubungkan probe multimeter (-) pada basis dan probe (+) pada emitor.
  • Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus B-E.
  • Hubungkan probe multimeter (-) pada emitor dan probe (+) pada kolektor.
  • Jika jarum multimeter tidak menunjuk (tidak bergerak) berarti transistor baik, jika bergerak berarti transistor rusak bocor tembus C-E.
  • Note : pengecekan probe multimeter (+) pada emitor dan probe (-) pada kolektor tidak diperlukan.
  Mengecek Kapasitor Elektrolit (Elko)
  • Atur Selektor pada posisi Ohmmeter.
  • Pilih skala batas ukur X 1 untuk nilai elko diatas 1000uF, X 10 untuk untuk nilai elko diatas 100uF-1000uF, X 100 untuk nilai elko 10uF-100uF dan X 1K untuk nilai elko dibawah 10uF.
  • Hubungkan probe multimeter (-) pada kaki (+) elko dan probe (+) pada kaki (-) elko.
  • Pastikan jarum multimeter bergerak kekanan sampai nilai tertentu (tergantung nilai elko) lalu kembali ke posisi semula.
  • Jika jarum bergerak dan tidak kembali maka dipastikan elko bocor.
  • Jika jarum tidak bergerak maka elko kering / tidak menghantar.

Multimeter Rating: 3.5 Reviewer:SAMBORES ItemReviewed: Belajar Menggunakan Multimeter
Terimakasih telah membaca artikel tentang Belajar Menggunakan MultimeterKalian bisa menemukan artikel Belajar Menggunakan Multimeter ini dengan urlhttp://sambores.blogspot.com/2012/11/belajar-menggunakan-multimeter.html. Kalian boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Belajar Menggunakan Multimeter ini bermanfaat bagi teman-teman, namun jangan lupa untuk meletakkan link Belajar Menggunakan Multimeter sebagai sumbernya.


Minggu

Fakta Ilmiah Mengenai Efek Biologis dari Fluoride

Fluoride dalam air minum pada awalnya ditambahkan pada tahun 1940 untuk mencegah kerusakan gigi. Studi terbaru menunjukkan bahwa fluoride menyebabkan fluorosis gigi pada 10% dari populasi. Dampak fluoride bahkan lebih mengkhawatirkan daripada apa yang hanya terjadi di gigi. Penelitian juga menghubungkan flouride ke peningkatan risiko kanker (terutama kanker tulang) masalah mutasi gen reproduksi, neurotoksisitas (hiper atau depresi) dan fluorosis tulang (penurunan kepadatan).



Bahkan, pada tahun 1999, EPA's Headquarters Union of Scientists mengambil sikap menentang fluoridasi dalam air minum. Fluoride yang digunakan dalam fluoridasi air tidak memiliki persetujuan FDA dan dianggap oleh FDA sebagai "obat yang belum disetujui". Penggunaan yang tepat dari obat apa pun membutuhkan pemahaman tentang berapa kadar yang diperbolehkan. Karena fluoride sudah ditambahkan dalam banyak makanan dan minuman, sebuah estimasi jumlah total asupan fluoride yang ada adalah suatu keharusan. Penelitian menunjukkan bahwa fluoridasi tidak perlu, karena kita sudah menerima 300% bahkan lebih dari jumlah harian yang direkomendasikan American Dental Association.

1. Paparan fluoride mengganggu sintesis kolagen dan menyebabkan kerusakan kolagen pada tulang, tendon, otot, kulit, tulang rawan, paru-paru, ginjal dan trakea.
A.K. Susheela dan Mohan Jha, "Pengaruh Fluorida pada Komposisi kortikal dan cancellous tulang," IRCS Medical Sciences: Library Compendium, Vol. 9, No.11, pp. 1021-1022 (1981); YD Sharma, "Pengaruh Sodium Fluoride pada Berbagai pemicu cross-link Kolagen," Toxicological Letters, Vol. 10, pp. 97-100 (1982); AK Susheela dan D. Mukerjee, "Keracunan Fluoride dan Pengaruh Biosintesis Kolagen pada Jaringan Osseus dan Nonosseous," European Research Toksikologi, Vol. 3, No.2, hlm 99-104 (1981); Y.D. Sharma, "Variasi dalam Metabolisme dan Pematangan Kolagen setelah Konsumsi Fluoride,"Biochemica et Biophysica Acta, Vol. 715, hlm 137-141 (1982); Marian Drozdz dkk, "Studi tentang Pengaruh Senyawa Fluoride pada Metabolisme Jaringan ikat dalam Pertumbuhan Tikus" dan "Pengaruh Sodium Fluoride Dengan dan Tanpa Paparan simultan ke Hidrogen Fluorida pada Metabolisme Kolagen,"Journal of Medicine Toksikologi, Vol. 4, hlm 151-157 (1984).
2. Fluoride merangsang pembentukan granula serta konsumsi oksigen dalam sel darah putih, tetapi menghambat proses ini ketika sel darah putih menghadapi serangan dari agen asing dalam darah.
Robert A. Clark, "Reaksi  iodinasi neutrofil diinduksi oleh Fluoride: Implikasi bagi degranulasi dan aktivasi metabolik," Blood, Vol. 57, pp. 913-921 (1981).
3. Fluoride menguras cadangan energi dan kemampuan sel darah putih untuk menghancurkan agen-agen asing dengan baik melalui proses fagositosis. Sekecil 0,2 ppm fluoride sudah dapat merangsang produksi superoksida dalam sel darah putih, yang hampir menghapuskan fagositosis. Bahkan sejumlah mikro-molar fluoride, di bawah 1 ppm, mungkin secara serius menekan kemampuan sel darah putih untuk menghancurkan agen patogen.
John Curnette, et al, "Aktivasi semburan pernapasan Neutrofil pada Manusia yang dimediasi Fluoride," Journal of Clinical Investigation, Vol. 63, hlm 637-647 (1979); WL Gabler dan PA Leong,, "Penghambatan Leukosit Polymorphonumclear oleh Fluoride," Journal of Dental Research, Vol. 48, No 9, hal 1933-1939 (1979), WL Gabler, dkk, "Pengaruh Fluoride pada Pembangkitan Kinetika Superoksida oleh Fluoride," Journal of Dental Research, Vol.. 64, hal. 281 (1985); A. S. Kozlyuk, et al, "Status kekebalan Anak di Lingkungan Terkontaminasi Zat Kimia," Zdravookhranenie, Edisi 3, hlm 6-9 (1987).
4. Fluoride membingungkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan ia menyerang jaringan tubuh sendiri, dan meningkatkan tingkat pertumbuhan tumor pada individu rentan kanker.
Alfred Taylor dan Nell C. Taylor, "Pengaruh Sodium Fluoride pada Pertumbuhan Tumor," Proceedings of the Society for Experimental Biology and Medicine, Vol. 119, p. 252 (1965);  Shiela Gibson, "Pengaruh Fluoride pada Fungsi Sistem Kekebalan," Complementary Medical Research, Vol. 6, hlm. 111-113 (1992); Peter Wilkinson, "Penghambatan  Sistem Kekebalan pada Fluorida Tingkat Rendah," Kesaksian untuk Pengadilan Tinggi Skotlandia di Edinburgh dalam Kasus McColl vs Strathclyde Regional Council, hlm 17.723 - 18.150, 19.328-19.492, DW Allman dan M. Benac, "Pengaruh Garam anorganik Fluoride pada Urine dan siklik Konsentrasi AMP di Vivo," Journal of Dental Research, Vol. 55 (Tambahan B), hlm. 523 (1976), S. Jaouni dan DW Allman, "Pengaruh Sodium Fluoride dan Aluminium pada Aktivitas Adenylate Cyclase dan phosphodiesterase," Journal of Dental Research, Vol. 64, hal. 201 (1985).
5. Fluoride menghambat pembentukan antibodi dalam darah.
SK Jain dan AK Susheela, "Pengaruh Sodium Fluoride terhadap Pembentukan antibodi pada Kelinci," Environmental Research, Vol. 44, hlm 117-125 (1987).
6. Fluoride menekan aktivitas tiroid.
Viktor Gorlitzer Von Mundy, "Pengaruh Fluorin dan yodium pada proses metabolisme, Terutama di Gland Thyroid," Muenchener Medicische Wochenschrift, Vol. 105, hlm 182-186 (1963), A. Benagiano, "Pengaruh Sodium Fluoride pada Enzim dan Metabolisme Basal tiroid pada Tikus," Annali Di Stomatologia, Vol. 14, hlm 601-619 (1965); Donald Hillman, et al, "Hypothyroidism dan Anemia Terkait dengan fluoride pada Sapi Perah,"Journal of Dairy Science, Vol. 62, No.3, hlm,416-423 (1979), V. Stole dan J. Podoba, "Pengaruh Fluoride pada Biogenesis Hormon Tiroid," Nature, Vol. 188, No 4753, hlm 855-856 (1960); Pierre Galleti dan Gustave Joyet, "Pengaruh Fluor pada Metabolisme Yodium tiroid dan Hipertiroidisme,"Journal of Clinical Endokrinologi dan Metabolisme, Vol. 18, hlm 1102-1110 (1958).
7. Fluorida memiliki efek mengganggu pada berbagai jaringan dalam tubuh.
T. Takamorim "Perubahan jantung pada pertumbuhan Tikus Albino yang diberi makan variasi Fluorin," Simposium Toksikologi dari Fluorin, Bern, Swiss, Oktober 1962, hlm 125-129, Vilber AO Bello dan Hillel J. Gitelman, "Paparan Tinggi Fluoride pada Pasien Hemodialisis," American Journal of Kidney Diseases, Vol. 15, hlm 320-324 (1990), Y. Yoshisa, "Studi Eksperimental pada Keracunan Fluorin kronis," Japanese Journal of Industrial Health, Vol. 1, hlm 683-690 (1959).
8. Fluoride meningkatkan perkembangan kanker tulang.
J.K. Mauer, et al., "Kajian Dua Tahun karsinogenik Sodium Fluoride pada Tikus," Journal of National Cancer Institute, Vol. 82, hlm 1118-1126 (1990),Proctor and Gamble "Studi Karsinogenik dengan Sodium Fluoride pada Tikus"Presentasi untuk National Institute of Environmenrtal Health Sciences, 27 Juli, 1985;. SE Hrudley et al, "Fluoridasi Air Minum dan Osteosarkoma,"Canadian Journal of Public Health, Vol. 81, hlm 415-416 (1990), PD Cohn,"Laporan Singkat tentang Fluoridasi Asosiasi Air Minum dan Insiden Osteosarcoma pada Pria muda," New Jersey Department of Health, Trenton, New Jersey,, November 1992; MC Mahoney dkk., "Angka Insiden Kanker Tulang di New York," American Journal of Public Health, Vol. 81, hlm 81, 475 (1991), Irwin Herskowitz dan Isabel Norton, "Peningkatan Insiden Tumor Melanotic Setelah Terapi dengan Sodium Fluoride," Genetika Vol. 48, hlm 307-310 (1963), JA Disney, et al,. "Sebuah Studi Kasus dalam Pengujian Kebijakan konvensional: Program Bilas Mulut dengan Fluoride di Berbasis Sekolah di Amerika Serikat," Community Dentistry and Oral Epidemiology, Vol. 18, hlm 46-56 (1990), DJ Newell, "Fluoridasi dalam Air dan Kanker - Sebuah Asosiasi?," Applied Statistics, Vol. 26, No 2, hlm 125-135 (1977).
9. Fluoride menyebabkan penuaan dini pada tubuh manusia.
Nicholas Leone, et al., "Aspek Medis dari Fluoride yang berlebihan dalam Air Minum," Public Health Reports, Vol. 69, hlm 925-936 (1954); J. David Erikson, "Angka Kematian pada Beberapa Kota dengan fluoride dan tanpa fluoride pada Persediaan Air Minumnya," New England Journal of Medicine, Vol. 298, hlm 1112-1116 (1978); "Desa Dimana Masyarakatnya tua Sebelum Waktunya," Stern Magazine, Vol. 30, hlm 107-108, 111-112 (1978).
10. konsumsi Fluoride dari larutan kumur dan pasta gigi pada anak-anak sangat berbahaya bagi perkembangan biologis, rentang hidup dan kesehatan umum.
Yngve Ericsson dan Britta Forsman, "Sisa Fluoride Dari larutan kumur dan Pasta gigi Pada Anak Prasekolah," Caries Research, Vol. 3, hal 290-299 (1969), WL Augenstein, et al,. "Tertelan Fluoride Pada Anak: Suatu Tinjauan Dari 87 Kasus," Pediatrics, Vol. 88, hlm 907-912, (1991); Charles Wax, "Laporan Lapangan Investigasi," State of Maryland Department of Health and Mental Hygiene, 19 Maret 1980, 67 halaman; George Waldbott, "Intoxication massal pada Over-Fluoridasi di Air Minum." Clinical Toxicology, Vol. 18, No.5, hlm 531-541 (1981).

Fakta lain

Isi pasta gigi berfluoride ukuran keluarga sudah cukup untuk membunuh anak dengan berat 11,5 Kg.
Pada tahun 1991, Akron (Ohio) Regional Poison Center melaporkan bahwa "kematian telah dilaporkan setelah seorang anak menelan 16 mg/kg fluoride. Hanya 1/10 dari satu ons fluoride bisa membunuh orang dewasa dengan berat 45,5 Kg. Menurut Regional Poison Center," pasta gigi fluoride dapat berisi hingga 1 mg/gram fluoride. "Bahkan Proctor and Gamble, pembuat Crest, mengakui bahwa tabung pasta gigi berukuran keluarga secara teoritis mengandung cukup fluoride untuk membunuh seorang anak."
Fluorida telah digunakan untuk memodifikasi perilaku dan suasana hati manusia.
Ini adalah sedikit fakta bahwa senyawa fluoride yang ditambahkan ke dalam air minum tahanan dapat membuat mereka jinak dan mencegah mereka untuk memberontak, baik di kamp-kamp penjara Nazi dalam Perang Dunia II maupun di gulag Soviet di Siberia.
Fluorida secara medis dikategorikan sebagai racun protoplasma, itulah sebabnya mengapa mereka digunakan untuk membunuh tikus.
Journal of American Medical Association bertanggal 18 September 1943, menyatakan, "fluorida adalah racun protoplasma umum yang mengubah permeabilitas membran sel dengan menghambat enzim tertentu. Mekanisme yang tepat dari tindakan tersebut tidak jelas."
Fluoride meningkatkan tingkat kematian umum kanker.
Pada tahun 1975 Dr John Yiamouyiannis menerbitkan sebuah survei awal yang menunjukkan bahwa masyarakat di daerah fluoridasi memiliki tingkat kematian kanker yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah non-fluoridasi. The National Cancer Institute berusaha menyanggah studi. Kemudian pada tahun 1975 Yiamouyiannis bergabung dengan Dr. Dean Burk, kimiawan kepala National Cancer Institute (1939-1974) untuk melakukan penelitian lain yang kemudian dimasukkan dalam catatan kongres oleh anggota kongres Delaney, yang merupakan penulis asli dari Amandemen Delaney, yang melarang penambahan zat penyebab kanker pada makanan yang digunakan untuk konsumsi manusia.
 sumber: http://www.info-kes.com/2013/04/fakta-ilmiah-mengenai-efek-biologis.html
baca juga: http://www.fluoridealert.org/
http://iebe03.wordpress.com/2011/11/15/bahaya-fluoride-dalam-air-minum-kemasan-dan-pasta-gigi/

Selasa

Contoh Soal Pascal menggunakan perintah FOR segitiga bintang

1.    uses crt;
2.    var
3.      i : integer;
4.    begin
5.    clrscr;
6.      FOR i := 1 TO 5 DO 
7.      begin
8.         FOR j := 1 TO i DO
9.         write('*');
10.       writeln;
11.      end;
12.    readln;
13.    End.

Question for you
1.   Apakah program tersebut Compiled Failed atau Compile Successfull jika dijalankan pada komputer?

2.   Baris ke berapa sajakah yang menyebabkan Compiled Failed?

3.   Apa yang perlu ditambahkan dan dibaris ke berapakah harus diletakkan?

4.   Menurut Anda, Apa tampilan hasilnya (outputnya) jika program tersebut dijalankan di komputer?

5.   Jelaskan ilustrasi proses dan hasil program tersebut!

Pembahasan
1. Compile Failed
2. baris ke 3 karena tidak dikenali j sebagai varibel
3. baris ke-3 perlu ditambah j hingga menjadi i,j : integer;
4. hasil di layar adalah
*
**
***
****
*****
_

5. ilustrasi prosesnya adalah

Minggu

Kisi-Kisi UAS Kelas X Semester 2 2013

Kisi-Kisi UAS Kelas X Semester 2 2013

Manajemen File 
  • Sistem Operasi, 
  • BIOS & CMOS, 
  • Shortcut menu,
Pascal 
  • write vs writeln, 
  • perintah dalam pascal, 
  • sintaks FOR, While, Repeat, Array, 
  • Cara penulisan perintah/ sintaks, 
  • Cara kerja perintah
Pengolah kata Ms.Word 
  • Page Setup, 
  • Tabulasi, 
  • Daftar Isi Otomatis vs Manual, 
  • Page Number, 
  • Header/ Footer, 
  • Mail Merge, 
  • Tabel, 
  • Format Teks, 
  • Drop Cap
  • Shortcut menu,

Jumat

Contoh Soal Pascal menggunakan perintah FOR

penggunaan FOR TO DO bertingkat

1.    uses crt;
2.    var
3.      i : integer;
4.     
5.    begin
6.    clrscr;
7.      FOR i := 1 TO 2 DO 
8.      begin
9.         FOR j := 1 TO 3 DO
10.       writeln(i,'-',j);
11.  
12.      end;
13.     
14.    readln;
15.    End.

Question for you
1.   Apakah program tersebut Compiled Failed atau Compile Successfull jika dijalankan pada komputer?
2.   Baris ke berapa sajakah yang menyebabkan Compiled Failed?
3.   Apa yang perlu ditambahkan dan dibaris ke berapakah harus diletakkan?
4.   Menurut Anda, Apa tampilan hasilnya (outputnya) jika program tersebut dijalankan di komputer?
5.   Jelaskan ilustrasi proses dari hasil program tersebut!

Pembahasan:
1. Compile Failed
2. sesuai tampilan di Compiler Messages, ada illegal counter variabel di baris 9
    yaitu For J, dimana J belum dikenalkan dalam VAR
 
3. perlu tambahan pada VAR yaitu j : integer; atau i, j : integer;
4.  1-1
     1-2
     1-3
     2-1
     2-2
     2-3
ini tampilan output dari layar FreePascal

5. alur/ algoritma dari program tersebut bisa dijelaskan seperti ini

ketika i = 1 maka j =1 dan writeln(i,'-',j) menghasilkan output 1-1 dan menciptakan kursor baru dibawah karena writeln;
!--- Ingat!!! i tidak akan berputar ke angka berikutnya bila j belum habis karena posisi j dibawah i
ketika i = 1 maka j =2 dan writeln(i,'-',j) menghasilkan output 1-2 dan menciptakan kursor baru dibawah
ketika i = 1 maka j =3 dan writeln(i,'-',j) menghasilkan output 1-3 dan menciptakan kursor baru dibawah

j nya sudah habis kan, baru deh jalankan i berikutnya

ketika i = 2 maka j =1 dan writeln(i,'-',j) menghasilkan output 2-1 dan menciptakan kursor baru dibawah karena writeln;
ketika i = 2 maka j =2 dan writeln(i,'-',j) menghasilkan output 2-2 dan menciptakan kursor baru dibawah
ketika i = 2 maka j =3 dan writeln(i,'-',j) menghasilkan output 2-3 dan menciptakan kursor baru dibawah